Senin, 02 Agustus 2010

Oleh-oleh dari IIMS 2010





Pesona IIMS 2010 emang gak ada matinya!! International Indonesia Motor Show (IIMS) merupakan suatu event otomotif besar yang disponsori oleh iB Perbankan Syariah.
Selama event itu berlangsung saya berkesempatan dua kali berkunjung ke sana. Kesempatan pertama, saya datang untuk mengikuti salah satu rangkaian acaranya yaitu iB Blogshop Kompasiana pada hari Minggu 25 Juli 2010.

iB Blogshop Kompasiana  belajar “Menjadi Reporter Warga” yang sering disebut Citizen Journalism (CJ). Materi tersebut disampaikan oleh Iskandar Zulkarnaen dan Kang Pepih Nugraha selaku admin Kompasiana.com. Acara ini tambah seru lagi karena peserta Blogshop ditantang menjadi CJ di event IIMS 2010.
Peserta harus mencari berita apa saja tentang IIMS 2010 dan diposting langsung ke Kompasiana.com dengan waktu yang telah ditentukan.
Saya sebagai orang awam merasa kewalahan ketika mencari berita di event sebesar IIMS 2010, dan harus langsung posting ke Kompasiana.com. dengan waktu yang terbatas pula! Ckck...
Lagi-lagi saya merasa beruntung bisa ikut Blogshop, karena  ternyata Blogshop ini digabung dengan Basic Fotografi Workshop. Pastinya kita mendapat bonus ilmu fotografi “Human Interest” dari Gunadi Haryanto. Wow!!

Kedatangan saya kedua kalinya ini tidak kalah seru juga. Ketika sedang menikmati kemegahan mobil-mobil mewah bersama sepupu di IIMS 2010, tiba-tiba ada kru Gen Fm yang menghampiri kita untuk menawarkan ikut iB Generaxi Announcer. Tanpa ragu langsung bilang,, "mau mau". iB Generaxi Announcer merupakan suatu lomba menjadi penyiar Gen FM yang termasuk rangkaian acara dari iB showcase.
Sampai di booth Gen FM, kita ditangani langsung oleh salah satu penyiar Gen FM yang bernama Rozi. Sebelum mulai siaran kita diberi sedikit  teori  sederhana tentang siaran. Tiga bagian penting dari siaran yaitu Opening, Trash Talk, dan Closing.
Opening pastinya kata-kata pembukaan , sedangkan trash talk bukan berarti omongan sampah yang ga penting. Tapi pengembangan kata-kata dari apa yang dibahas, biar gak mati gaya. Terakhir closing untuk menutup acara. Dalam reportase event seperti IIMS ini wajib ada 5 W 1 H dan yang terpenting menjadi penyiar jangan sampe mengeluarkan kata “hmmm” “engg”, kalo tiba-tiba hampir kepeleset mengeluarkan kata-kata itu harus cepat mencari kata penggantinya. Teori singkatnya memang seperti itu.

“Ok dimulai ya!! Jangan lupa selama siaran harus menyebutkan 3 kata penting itu nama sendiri, iB Perbankan Syariah, dan Gen FM.”
Mau gak mau harus bilang, “Ok siappp!”

Opening. Lancar tapi kepelest bilang “hmmm”, maklum grogi.
Trash talk. Disuruh ngomong apa aja tentang IIMS, upz ngomong apa yaa?? Apa aja dewh yang terlihat sama mataku. Ternyata benar dengan keadaan tanpa disadari kata-kata keluar mengalir begitu saja. Hehe...
Closing deh, akhirnya selesai jugaa.
“Sukses yaa, semoga menang nanti bisa ketemu lagi.” Itulah kata-kata yang terucap dari penyiar sebelum kita meninggalkan booth Gen FM. Hmm,, sadar diri juga kalo gak berbakat jadi penyiar, menang atau tidak yang penting bisa icip-icip jadi penyiar Gen FM.
Oiaa di IIMS ada pameran foto juga, apalagi lomba fotografi buanyak banget. Makanya banyak pengunjung yang menenteng-nenteng kamera kesayangan mereka. Jadi pengen ikutan, cari yang syaratnya simpel deh. Akhirnya ikut juga, sekedar belajar aja. Tapi berharap pada saat penilaian jurinya lagi kelilipan, jadi jepretanku yang asal dibilang bagus, hahaha.
Selain dapet banyak ilmu, pengalaman dan teman, dapet banyak souvenir juga. Itulah oleh-oleh dari IIMS 2010. IIMS tahun depan pasti lebih seruu!!!

Minggu, 01 Agustus 2010

RRI di Mata Generasi Muda

Sebagai generasi muda menginjakkan kaki di RRI untuk pertama kalinya merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Tetapi ketika ditanya...
Siapa yang bangga sbagai pendengar RRI? Hmmm.. Siapa yaa?
Seribu alasan mengapa sekarang generasi muda tidak kenal dengan RRI apalagi mendengarkan RRI?
Sekelompok generasi muda yang tergabung dalam radio komunitas Era fm UNJ bekunjung ke RRI dengan salah satu tujuannya yaitu untuk menjawab seribu alasan tersebut.
Kedatangan kami disambut hangat oleh pihak RRI. Luar biasaa, kami disambut oleh bapak Zulhaqqi Hafiz selaku Kepala Satuan Pengawas Internal ( SPI ) RRI beserta jajarannya *serasa tamu penting, padahal kita bukan apa-apa*. Selama disana kami diberi banyak ilmu terutama tentang broadcasting dan informasi perkembangan RRI sebagai radio publik.
Pada tahun 90an RRI yang sebelumnya Perusahaan Jawatan berubah menjadi Lembaga Penyiaran Publik (LPP). Tugasnya siaran yang bersifat memberi layanan kepada masyarakat. RRI juga bersifat netral, tidak komersialisme, dan melayani kepentingan masyarakat.
Sebelum brangkat saya sempat meminta pendapat teman-teman tentang alasan mengapa tidak pernah mendengarkan RRI. Alasan mereka sangat beragam mulai dari lagu-lagunya gak update, masih beranggapan RRI itu radio jaman perjuangan, penyiarnya bukan anak muda yang gaul, dll.
Lalu apakah yang menjadi penyebabnya? Apakah radionya yang tidak bagus?
Ibu Awanda Erna selaku Kepala Bidang Perencanaan & Produksi RRI Jakarta berpendapat bahwa, " RRI itu tidak bagus ukuran siapa?" Saya sependapat dengan beliau. Sebuah radio apapun tidak terkecuali RRI, jika dikatakan tidak bagus itu menurut siapa dan dipandang dari aspek mana.
Seperti saya sendiri yang sebelumnya menganggap RRI itu tidak bagus. Hal tersebut karena sepengetahuan saya, RRI sekedar siaran berita, tidak membahas tren masa kini dan tidak memutarkan lagu-lagu masa kini. Secara secara psikologis, orang Indonesia kesulitan untuk menghilangkan suatu persepsi bahwa RRI sebagai radio jaman perjuangan dulu, dan  kesadaran kita pun kurang untuk mengetahui perkembangan RRI lebih lanjut.
Pada umumnya generasi muda masa kini memandang RRI sebagai radio tua yang hanya menyiarkan berita. Tetapi itu semua tidak tepat, RRI memiliki banyak program, yaitu:
-PRO 1  Ragam musik & informasi  FM 91,2
-PRO 2  Gaya Hidup  FM 105
-PRO 3  Jaringan Berita Nasional  FM 88,8 AM 999 SW 11860
-PRO 4  Pendidikan & Budaya  FM 92,8  AM 1332  SW 9680
-V.O.I   Siaran Luar Negeri  SW 15150  SW 11785  SW 9525
Selain itu kita juga bisa live streaming semua program RRI di www.rri.co.id. Nah,, program RRI sekarang sudah beragam, sekarang kita tumbuhkan kesadaran untuk mendengarkan siaran RRI.
Namun disamping itu radio-radio swasta bergenre anak muda tumbuh sangat pesat, mereka berlomba-lomba untuk memikat hati anak muda untuk menjadi pendengar setianya. Bermodalkan lagu-lagu baru, tren masa kini, acara off air yang seru, dan yang terpenting penyiarnya bagian dari generasi muda yang gaul tapi tetap profesional dan berwawasan luas.
Pada saat ini yang menjadi permasalahan dari RRI yaitu sumber daya manusianya. Sebagian besar pegawai RRI merupakan PNS yang sudah cukup berusia. Sedangkan untuk menarik pendengar anak muda, seharusnya memiliki tenaga muda profesional yang kompeten dalam mengelola program bergenre anak muda. Sehingga tidak lagi ada persepsi bahwa RRI sebagai radio jaman dulu.
Kita sebagai generasi muda dan pihak RRI sendiri sangat menginkan RRI sebagai media informasi yang sangat bermanfaat bagi msyarakat Indonesia. Mari wujudkan harapan itu bersama-sama!

Generasi muda.... Ayoo kita jadi pendengar RRI radio publik kebanggaan bangsa!!
RRI "sekali di udara, tetap di udara"

Jumat, 30 Juli 2010

Suara di Balik Hutan Larangan (1)


Hasil penjurian tahap II: 20 besar EADC 2010 
 
Mereka yang lolos di penjurian tahap II Eagle Awards 2010 adalah:
1. Pejuang Ras Hazwin/Aswandi N jayadi Pinrang/Sulsel
2. Suara di balik Hutan Larangan Siti Nurzanah/Garnayudha Bogor/Jabar
3. ...
    ...
23....
 
bagi 23 proposal terpilih di tahap ini agar mempersiapkan diri, pihak panitia akan menghubungi dan mengirimkan Form Riset lanjutan via email yang harus kalian isi dan dikirimkan kembali kepada pihak panitia, sebagai persyarat tambahan untuk penjurian selanjutnya.
.....
.....


SebeLumnya saya gak percaya, yang penting Horeeeee LOLOS!! no 2 !
dengan semangat 45, ayoo scepatnya kita harus riset langsung ke lokasi!!!
 
Sesuai dengan tema Eagle Awards tahun ini yaitu Cerdas Indonesiaku, maka proposal "Suara di Balik Hutan Larangan" itu menceritakan tentang radio komunitas adat Kasepuhan Ciptagelar yang berfungsi sebagai media komunikasi dan pertukaran informasi baik dengan dunia luar maupun antar warga desa Cipta Gelar sendiri. Beberapa tahun yang lalu warga Cipta Gelar terisolasi dari dunia luar, letaknya yang sulit dijangkau merupakan salah satu penyebabnya. Namun semenjak adanya radio tersebut terjadi komunikasi dan pertukaran informasi, sehingga Cipta Gelar telah berhasil membantu warganya keluar dari terisolasian dan merupakan suatu upaya pencerdasan anak bangsa.  
Desa Cipta Gelar tersebut letaknya di kaki gunung Halimun tepatnya di desa Sirnaresmi kecamatan Cisolok kabupaten Sukabumi, berjarak kurang lebih 44 km dari Pelabuhan Ratu. Untuk tiba di desa Cipta Gelar itu harus menembus Hutan Larangan duLu. 
   
Naahh lhoo,, penasaran sama Hutan Larangan dan desa Cipta Gelar??? dan kalo mau tau betapa serunya perjalanan kita ke Cipta Gelar yang melewati Hutan Larangan?? Lanjut ikuti cerita Pejalan Kaki yaa,, ^_^  


BOGOR-PELABUHAN RATU  
Perjalanan kita bertiga (saya,bang Garna & Arif) dimulai dari terminal Baranangsiang Bogor. Sekitar jam 5 sore bis menuju PElabuhan Ratu keluar dari terminal, namun tidak lama kemudian di daerah Tajur perjalanan tersendat karena padatnya arus kendaraan. Keadaan tersebut masih berlanjut hingga memasuki kota Sukabumi, maka dari itu sampai di Pelabuhan Ratu jam 22.30.  
Lapeeerrr,,, kita makan dulu, trus JaLan Kaki malam menyusuri pantai Pelabuhan Ratu, walaupun tidak tampak keindahanya karena kegelapan malam namun hantaman ombaknya begitu keras terdengar di telinga kita. Setelah berjalan hingga melewati suatu hotel, terlihat sebuah mushola kecil di tepi pantai. Di mushola itulah kita memutuskan beristirahat hingga sang fajar datang. 
Jam 5 subuh selasai shalat kita melanjutkan JaLan Kaki lagi walaupun tanpa sarapan (hikz,,) Masih tetap menyusuri pantai Pelabuhan Ratu. Gak lama terlihat bangunan yang fenomenal yaitu Samudra Beach Hotel, sebagai pertanda sudah mendekati kecamatan Cisolok.  


CISOLOK-CIPTARASA
Cisolok-Ciptarasa 18 km lagi, Cisolok-Ciptagelar 28 km lagi!! Hmmm, dsini ga ada angkutan umum menuju Cipta Gelar maupun Cipta Rasa. Paling tidak bisa menumpang mobil/truk yang membawa hasil sawah,kebun,dll. Sebenarnya ada ojek yang bisa langsung ke Cipta Gelar tapi lumayan mahal juga. Mumpung masih pagi, kita JaLan Kaki aja *padahal ga punya duit & berharap ada mobil/truk yang bisa ditebengin* hehe..  
Do`a orang yang sdikit menderita emang lebih cepat didengar, ada truk lewat euy!! Pak supirrr kita ikut yaaa.. Sepanjang perjalanan nebeng di truk, sudah terlihat keindahan Gunung Halimun. Jalan yang berkelok-kelok dan tanjakan *kebayang kalo harus JaLan Kaki*  
Lumayan juga tebengannya, walupun masih jauh dari Cipta Rasa. JaLan Kaki lagii, gak lama ada mobil lewat lagi. Pasti nebeng dong! Lumayan walau cuma bentar. JaLan Kaki lagi, lewat jembatan yang dibawahnya ada anak-anak berenang di sungai, seruuu bgt!! *hasrat ingin mandi muncul,maklum blum mandi dari kemaren* 
Akhirnya sampe juga di Cipta Rasa, banyak warga yang sedang melakukan aktifitas sehari-hari. Konon dahulu mereka tinggal di Cipta Rasa sebelum pindah ke Cipta Gelar. Jadi warga Cipta Rasa masih merupakan keturunan dari warga Cipta Gelar. Jika sudah sampai di Cipta Rasa maka sudah terlihat pintu gerbang menuju Hutan Larangan itu.




HUTAN LARANGAN  
Sebelum memasuki Hutan Larangan terdapat Imah Gede pertama dan terdapat beberapa Lumbung padi yang disebut Lumbung Leuit. Inilah pintu gerbang Hutan Larangan. Dilihat dari pintu gerbangnya Hutan Larangan memang sangat sederhana, tapi di dalamnyaa?? woow!! kita lihat nanti..
[bersambung ke "Suara di Balik Hutan Larangan (2)" yaaa]